Senin, 24 Oktober 2011

Mengenal Berbagai Media Pembelajaran (bag. 1)

Klasifikasi media pembelajaran, dikelompokan menjadi media proyeksi, media non-proyeksi, media tiga dimensi dan media yang menggunakan teknik atau masinal. Untuk lebih jelasnya, akan dikemukakan dan dijelaskan beberapa jenis media pembelajaran yang lazim digunakan di sekolah-sekolah, sebagai berikut :

1. Papan Tulis dan Whiteboard

Papan tulis, merupakan “alat” yang sangat diperlukan disetiap sekolah dan di kelas. Bahkan papan tulis dikatakan fasilitas yang mutlak diperlukan, seperti halnya diperlukan meja dan kursi. Dengan papan tulis, pengajar dapat menulis dan menjelaskan materi pelajaran secara efektif dan efisien, sehingga pembelajar dapat menerima pelajaran dengan baik. Papan tulis dapat di gunakan secara baik, dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunanaan papan tulis.Papan tulis, belum dapat dikategori sebagai “media pembelajaran”, tetapi sebagai alat pelajaran. Papan tulis da-pat dikategori sebagai media pembelajaran, apabila “papan tulis” tersebut telah difungsikan atau digunakan untuk memberikan informasi atau digunakan untuk menjelaskan meteri pelajaran atau papan tulis itu sendiri fungsinya telah memberikan informasi kepada penerima pesan atau “pembelajar”.
Papan tulis merupakan alat yang lazim digunakan, tetapi pertanyaannya bagaimana saudara dapat menggunakan papan tulis dengan baik, efektif, dan efisien dalam menjelaskan pelajaran di kelas? Jawabannya mungkin bervariasi, ada yang menyatakan bahwa menggunakan papan tulis adalah hal yang mudah, tidak perlu dipelajari, dan hanya menirukan pengajar atau dosen. Jawaban ini mungkin dapat diterima bagi orang yang bukan didik dalam ilmu kepengajaran. Tetapi bagi orang yang didik dalam ilmu kepengajaran akan menyatakan bahwa keterampilan menggunakan papan tulis perlu dipelajari dan karena itu pengajar-pengajar lulusan tenaga kepengajaran akan dapat menggunakan pepan tulis secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan papan tulis, antara lain :
1] Papan tulis sangat mutlak diperlukan di kelas
2] Dengan papan tulis seorang pengajar dapat menulis pesan berupa pelajaran dan dapat menjelaskan pelajaran tersebut dengan baik.
3] Papan tulis juga dapat digunakan pembelajar untuk menulis dan menyelesaikan tugas dan lain-lain.
4] Apakah sebagai calon pengajar perlu mempelajari cara-cara menggunakan papan tulis? Ataukah sebagai calon pengajar hanya menirukan cara pengajar menggunakan papan tulis, yang pernah dilihatnya.

Kalau kita bertanya pada guru dan calon guru, mungkin jawaban sederhana, oh…yaa! … mudah saja tidak perlu mempelajari cara-cara menggunakan papan tulis. Cukup menirukan cara pengajar [guru dan dosen] yang pernah mengajar dan menggunakan papan tulis. Jawaban ini mungkin dapat dibenarkan bagi yang tidak dididik dalam ilmu keguruan. Bagi yang dididik sebagai calon pengajar harus mempelajari cara-cara menggunakan papan tulis. Mempelajari cara-cara menggunakan papan tulis bagi seorang calon pengajar akan memudahkan calon pengajar mengetahui teknik menggunakan, posisi berdiri, posisi ketika menulis dan menjelaskan pesan atau pelajaran yang ditulis di papan tulis, dan lain-lain.
Selain itu, bagi calon ”pengajar” harus mengetahui manfaat, nilai papan tulis, teknik menggunakan papan tulis, beberapa hal yang dapat membatasi ”pengajar” dalam menggunakan papan tulis, serta kelebihan dan kelemahan papan tulis dibandingkan dengan media yang lain.
a. Nilai Papan Tulis
Penggunaan papan tulis pada saat menjelaskan materi pelajaran, memiliki nilai manfaat yang sangat penting, antara lain :
1] Penyajian pelajaran dapat dilakukan dengan jelas oleh pengajar selangkah demi selangkah dan secara sistematis.
2] Apabila terdapat kekeliruan atau kesalahan dapat dilihat dan segera diperbaiki oleh pengajar secara langsung.
3] Merangsang pembelajar untuk dapat belajar secara efektif.
4] Pembelajar dapat melihat dan dapat membaca dengan jelas apa yang ditulis oleh pengajar di papan tulis.
5] Memotivasi pembelajar untuk terbiasa bekerja pada papan tulis .

b. Beberapa hal yang membatasi penggunaan papan tulis
Manfaat dan nilai penggunaan papan tulis dalam proses pembelajaran di kelas sangat besar, tetapi ada beberapa hal yang secara langsung atau tidak langsung dapat membatasi pengajar menggunakan papan tulis, yaitu :
1] Ada sebagian pengajar merasa tidak tenang apabila menggunakan papan tulis. Merasa tidak mempunyai kecakapan menulis, meng-gambar yang bagus dan indah di papan tulis. Hal ini menyebabkan keragu-ragu-an dan timbul rasa segan untuk menggunakan papan tulis sebagai media pem-belajaran.
2] Pengajar segan untuk mem-persiapkan dan membersihkan papan tulis sebelum mengajar, karena takut tangan kotor terkena debu kapur. Atau untuk mempersiapkan suatu demon-strasi melalui papan tulis memerlukan waktu dan meminta perhatian, kete-kunan tersendiri dari pengajar. Akibatnya dapat menimbulkan rasa segan ketika menggunakan papan tulis.
3] Adanya alat-alat modern yang mulai digunakan dalam proses pembelajaran di kelas, seperti slide, kaca terbus cahaya, film, vidio, VCD, LCD, dll.
4] Banyak buku-buku pelajaran yang dapat dibeli dan dimiliki oleh pembelajar, dari pada mencatat pelajaran dari papan tulis.
5] Pembelajar tidak selalu dapat melihat pelajaran dengan mudah di papan tulis, karena mungkin pengajar berdiri di depan papan tulis dan menutupi tulisan di papan tulis.
6] Apabila pembelajar diberi kesempatan untuk menggunakan papan tulis, maka memerlukan waktu yang banyak, mengurangi jumlah bahan yang akan diajarkan, dan membosankan.
7] Demonstrasi dan ilustrasi yang disajikan pengajar pada papan tulis, seringkali tidak dapat ditangkap pembelajar dengan jelas, sukar dilihat dan kemungkinan tidak dimengerti pembelajar, karena pengajar berdiri di depan papan tulis.
8] Debu kapur, dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan pengajar, yaitu sakit paru-paru, tenggerokan, gangguan kulit, dan pernapasan. Apalagi ventilasi ruangan tidak begitu baik .

d. Teknik Menggunakan Papan Tulis
Manfaat atau nilai penggunaan papan tulis dalam pengajaran di kelas sangat penting manfaatnya. Tetapi, timbul pertanyaan bagaiamana menggunakan papan tulis secara efektif? Pertanyaan ini muncul, karena ada sebagian orang menganggap bahwa “cara menggunakan papan tulis adalah hal yang mudah, tidak perlu dipelajari, cukup dengan meniru pengajar yang pernah mengajar mereka, sewaktu mereka masih dibangku sekolah atau di kampus”. Anggapan ini dapat dibetulkan, karena muncul dari orang yang belum mengerti tentang ilmu keguruan atau bukan dari lulusan lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Kecakapan menggunakan papan tulis perlu dipelajari secara khusus dan kecakapan ini hendaknya menjadi program pendidikan sekolah-sekolah kepengajaran, agar mereka dapat menguasai teknik penggunaan papan tulis secara efektif, efisien, dan memuaskan.
Sebenarnya untuk menggunakan papan tulis, seorang pengajar tidak dituntut menjadi seorang “ahli lukis”, untuk menggambar atau menulis di papan tulis. Tetapi yang diperlukan adalah kecakapan cara menggunakan papan tulis dengan baik, efisien dan efektif. Misalnya seorang pengajar harus :
1] Mengetahui hal-hal terperinci dan bersifat praktis.
2] Menulis dengan huruf yang jelas dan dapat dibaca oleh pembelajar.
3] Menulis dan menggambar secara sederhana yang tak memerlukan kecakapan khusus.
4] Apabila membuat garis, garislah secara lurus.
5] Menjaga kebersihan, kerapian ketika menggunakan papan tulis.
6] Usahakan tulisan harus lurus dan jangan tulisannya naik atau turun.

Kecakapan ini perlu dipelajari agar jangan sampai tulisan-tulisan yang ditulis di papan tulis justru membuat keruwetan dan membingungkan pembelajar. Pengajar juga perlu memperhatikan hal-hal yang perlu ditulis dan hal-hal yang tidak perlu ditulis. Kondisi ini memang memerlukan kecakapan tersendiri yang tentu harus dimiliki oleh seorang pengajar sebagai tugas profesionalnya.
Hal-hal yang terperinci dan kompleks, “sebaiknya pengajar mempersiapkan terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran agar efesiensi waktu. Pengajar dapat menjelaskan materi pelajaran dengan baik di papan tulis dan pembelajar dapat melihat penjelasan di papan tulis dengan jelas. Penggunaan papan tulis dengan baik dapat merangsang pembelajar untuk memusatkan perhatian secara khusus pada bagian-bagian tertentu dari pelajaran yang sedang dijelaskan .

e. Hal-hal yang Perlu diperhatikan
Selain hal-hal yang dikemukakan di atas, ada juga hal-hal lain yang tak kalah pentingnya pada saat pengajar menggunakan atau menulis di papan tulis. Hal-hal tersebut, yaitu :
1] Sebaiknya “jangan menulis” di papan tulis sambil berbicara. Tulislah, baru berbicara berhadapan dengan pembelajar, karena apabila pengajar menulis sambil berbicara, berarti pengajar

tersebut berbicara berhada-pan dengan papan tulis, tidak berhadapan dengan pembelajar. Ini berarti pengajar tidak tatap muka, tetapi “tatap belakang” [tatap bokong]. Tentu tindakan ini jelas pengajar membelakangi pembelajar - pembelajarnya. Mungkin saja, ada sebagian orang atau juga pengajar, mengatakan bahwa tidakan tersebut boleh - boleh saja
dan tidak apa-apa. Tetapi apabila dilihat dari sudut etika pembelajaran, tindakan membelakangi “pembelajar” dan berbicara berhadapan dengan papan tulis adalah tindakan yang kurann baik dalam pembelajaran di kelas.
2] Selain itu, pada waktu pengajar menerangkan hendaknya berdiri di samping papan tulis dan jangan berdiri di tengah papan tulis, agar supaya “pembelajar” dapat melihat tulisan, gambar atau informasi yang ada di papan tulis.

Hal-hal yang dikemuka-kan di atas, apabila dipatuhi oleh seorang pengajar dan dihindari, maka pembelajar dapat mengikuti pelajaran yang sedang dijelaskan dengan baik tanpa ada gangguan dari pengajar itu sendiri. Selain itu hal-hal tersebut, pengajar juga perlu memperhatikan
perbedaan antara penggunaan papan tulis dengan Overhead Projector Transparansy [OHT], sehingga pengajar akan mengetahui kelebihan dan keterbatasan dari masing- masing alat tersebut.
Setelah mengetahui perbedaan papan tulis dan Overhead Projector Tran-sparansy, maka perlu mem-perhatikan keuntungan pa-pan tulis atau whiteboard. Beberapa keuntungan menggunakan papan tulis atau whiteboard, sebagai berikut :
1] Penyajian materi pelajaran dapat diperlihatkan tahap demi tahap suatu proses.
2] Tidak memerlukan banyak pekerjaan dan per-siapan.
3] Dapat menjelaskan hal-hal sesaat [misalnya untuk menjawab pertanyaan].
4] Sesuai untuk memperlihatkan gambar yang rumit/ kompleks.

Papan Tulis, merupakan alat atau media yang paling dominan dan paling banyak digunakan pengajar-pengajar di sekolah-sekolah untuk menulis dan menjelaskan materi pelajaran. Dari hasil “Observasi” mahasiswa akta IV angkatan XIV tahun 2004, terhadap 33 pengajar di Yogyakarta yang menggunakan “Papan Tulis” atau “Whiteboard” pada saat mengajar di kelas, diperoleh hasil sebagai berikut :
Hasil observasi tentang “Posisi berdiri Pengajar ketika menjelaskan materi pelajaran di Papan Tulis”, diketahui 26 pengajar [78.78%] posisi berdiri pada “sisi kanan” atau “sisi kiri papan tulis”, sehingga tidak menutupi tulisan atau penjelasan yang ada pada Papan Tulis. Sedangkan 7 orang pengajar [21.22%], yang posisi berdirinya selalu atau sering ditengah ketika menjelaskan materi pelajaran di Papan Tulis. Tindakan ini tentu menutupi penjelasan atau keterangan yang ada di “Papan Tulis” atau “Whiteboard”
Tentang “Kualitas Tulisan di Papan Tulis”, diketahui 10 orang pengajar [30.30%] yang tulisannya memenuhi standar yaitu “rapi, bagus” dan “jelas” dapat dibaca oleh “pembelajar” di bagian belakang. Sedangkan, 23 pengajar [69.70%] yang tulisannya kurang memenuhi standar yaitu “kurang rapi, kurang bagus” dan “kurang jelas” untuk dilihat “pembelajar” yang duduk dibagian belakang kelas.
Tentang “Cara Menulis di Papan Tulis”, diketahui 11 orang pengajar [33.33%], yaitu menulis materi pelajaran atau penjelasan terlebih dahulu di “Papan Tulis” atau “Whiteboard” baru menerangkan. Sedangkan, 22 orang pengajar [66.67%], yaitu “menulis sambil berbicara” atau menjelaskan. Tentu tindakan ini, kurang sesuai dengan prinsip media [prinsip tatap muka], karena pengajar akan selalu membelakangi “pembelajar” dan pengajar selalu “berkomunikasi dengan papan tulis”, sementara “pembelajar” berhadapan dengan “bagian belang pengajar”. Dari sisi kesehatan, ketika pengajar menulis dan menjelaskan, tentu akan selalu menghirup “debu kapur tulis” atau “tiner dari spidol Whiteboard”, hal ini tentu akan berakibat atau mengganggu kesehatan pengajar itu sendiri .
Data ini, menurut hemat penulis belaum “akurat” sebagai suatu penelitian. Tetapi sekurang-kurangnya, dari data ini kita dapat mengetahui gambaran umum tentang kondisi pengajar ketika menggunakan Papan Tulis atau Whiteboard pada saat menulis dan menjelaskan materi pelajaran.
Kemudian, dari hasil observasi tentang kondisi Pengajar menggunakan Papan Tulis atau Whiteboard pada proses pembelajaran di kelas, dapat disimpulkan bahwa :
1] kebanyakan pengajar menulis sambil berbicara
2] tulisan kurang rapi dan kurang jelas.
3] penulisan materi yang terlalu rumit dan tidak sederhana
4] tulisan terlalu kecil, sehingga kurang jelas.
5] kurang teliti menggunakan spidol whiteboard, sehingga cepat habis.
6] menghapus papan tulis kurang bersih.

Sedangkan mengenai “manfaat menggunakan papan tulis atau whiteboard”, berdasarkan hasil wawancara dengan pengajar-pengajar yang menggunakan papan tulis atau whiteboard, diperoleh jawaban, komentar atau pendapat, sebagai berikut:
1] hemat biaya,
2] kekeliruan dapat diperbaiki langsung,
3] bentuk tulisan sederhana, rapi dan mudah dibaca,
4] penggunaan ruang/space papan tulis secara efektif dan efisien,
5] kebanyakan posisi menerangkan berdiri disamping papan tulis,
6] pengajar menulis hal-hal yang pokok-pokok saja.

Untuk lebih jelaskannya, perlu memperhatikan “gambaran sikap bediri” didepan papan tulis atau whiteboard, ketika menulis dan menjelaskan materi pelajaran, sebagai barikut :
Gambaran Sikap Berdiri di depan Papan Tulis. Biasanya pada saat menggunakan papan tulis, ada sebagian pengajar sering mengabaikan atau melupakan hal-hal [petunjuk] teknis yang selalu mengganggu proses pembelajaran di kelas. Untuk itu, perlu memperhatikan sikap dan gaya berdiri di depan papan tulis pada saat menjelaskan dan menulis materi pembelajaran, sebagai berikut :


1] Sikap Kurang Baik
Ketika menjelaskan dan menulis materi pembelajaran di papan tulis, pengajar sering melakukan hal-hal teknis yang dikategori sikap yang ”kurang baik”, di antaranya:
[a] Posisi tulisan yang terpencar-pencar
[b] Posisi berdiri pengajar yang menutupi tulisan di papan tulis.
[c] Menunjuk tulisan di papan tulis, tetapi ditutupi oleh pengajar sendiri.
[d] Posisi seperti ini menyulitkan pembelajar untuk melihat pesan atau pelajaran di papan tulis.
[f] Eee, eee, pak pengajar menutupi pelajaran, to-long beritahu doong pada pak pengajar, ja-ngan menutupi materi pelajaran dipapan tulis, agar kita dapat mencatat dengan baik.

2] Sikap yang Baik
Ketika menjelaskan dan menulis materi pembelajaran di papan tulis, pengajar memperhatikan ”hal-hal teknis”, yang tidak akan meng -
ganggu pembelajar saat mengikuti dan mencacat materi pelajaran di papan tulis, sebagai berikut :
[a] Tulisan sederhana, jelas, tersusun secara rapi, mudah dibaca, dan dilihat.
[b] Posisi berdiri di “samping papan tulis”, menunjuk tulisan ke papan tulis, sehingga tidak menutupi tulisan di pa-pan tulis.
[c] Ini adalah “sikap yang baik” di depan papan tulis .

2. Papan Flanel [Flanel Board]
Papan flanel merupakan media grafis yang efektif untuk menyajikan pesan-pesan tertentu kepada sasaran tertentu pula. Bentuk papan flanel adalah papan yang berlapis kain flanel sehingga gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dicopot atau dilepas dengan mudah dan dapat dipakai berkali-kali. Selain gambar, untuk kelas-kelas rendah TK , papan flannel lebih efektif digunakan untuk menempelkan huruf dan angka-angka .
Papan flanel [flannel board] termasuk salah satu media pembelajaran visual dua dimensi, yang dibuat dari kain flanel yang ditempelkan pada sebuah papan atau tripleks, kemudian membuat guntingan-guntingan kain flanel atau kertas rempelas yang diletakkan pada bagian belakang gambar-gambar yang berhubungan dengan bahan-bahan pelajaran. Gambar yang akan ditempelkan pada papan flanel tidak akan mudah lepas, karena adanya daya rekat yang tetap antara kain flanel atau kertas rempelas pada bagian belakang gambar dengan kain flanel pada papan flanel [papan yang telah dilapisi kain flanel].



a. Tujuan pembuatan Papan Flanel
Papan flanel atau flannel board termasuk media pembelajaran visual dua dimensi. Maka, tujuan pembuatan papan flannel, sebagai berikut :
1] Membantu pengajar untuk menerangkan bahan pelajaran
2] Mempermudah pemahaman pembelajar tentang bahan pelajaran
3] Agar supaya bahan pelajaran lebih menarik.

Dengan papan flanel atau flannel board, seorang pengajar dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Tetapi perlu diketahui “papan flannel” lebih efektif digunakan untuk materi pelajaran tertentu, seperti menempelkan huruf, angka-angka dan gambar untuk “materi membaca”, “mengucapkan huruf” dan “mengenal gambar” bagi “pembelajar” pada kelas-kelas rendah TK.

b. Bahan, alat dan cara yang diperlukan untuk pembuatan Papan Flanel
Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat papan flannel sebagai media pembelajaran adalah :
1] kain flannel atau kertas rempelas,
2] papan atau tripleks,
3] bahan perekat [lem],
4] gunting,
5] paku, dan
6] gambar atau bahan pelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan dan tujuan pembelajaran.

Cara membuat papan flannel sebagai media pembelajaran, adalah sebagai berikut:
1] Untuk membuat papan flanel, yaitu : [a] siapkan papan atau tripleks, ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan, [b] gunakan kain flannel, ukurannya disesuaikan dengan ukuran tripleks atau papan, dan [c] tempelkan kain flannel tersebut pada tripleks atau papan tersebut.
2] Kumpulkan gambar-gambar yang sesuai dengan bahan pelajaran yang akan diajarkan.
3] Gambar yang akan digunakan, bagian belakangnya ditempelkan kain flanel atau kertas rempelas, kemudian gambar tersebut ditempelkan pada tripleks yang telah diberi atau dilapisi kain flannel, sehingga gambar tersebut tetap melekat pada papan flanel.

c. Keuntungan Menggunakan Papan Flanel
Keuntungan menggunakan Papan Flanel sebagai media pembelajaran, sebagai berikut:
1] gambar-gambar dengan mudah ditempelkann
2] efesiensi waktu dan tenaga,
3] menarik perhatian “pembelajar”
4] memudahkan pengajar menjelaskan materi pelajaran.

Media papan flanel jarang atau mungkin tidak banyak digunakan dalam proses belajar di kelas untuk sekolah-sekolah ”tingkat atas” [SMU,SMP, dan SD]. Media papan flanel, lebih efektif digunakan untuk
pendidikan ”tingkat rendah”, seperti Taman Kanan-kanak [TK], flay Groop, dan sekolah bermain lainnya.
Langkah-langkah dan cara menggunakan di dalam proses pembelajaran, sebagai berikut :
1] langkah pertama, sebelum mengajar, gambar yang telah diberikan kain flannel disiapkan terlebih dahulu,
2] langkah kedua, selanjutnya siapkan papan flannel dan gantungkan papan flanel tersebut di depan kelas atau pada bagian yang mudah dilihat oleh pembelajar,
3] langkah ketiga, ketika pengajar akan menerangkan bahan pelajaran dengan menggunakan gambar, maka gambar dapat ditempelkan pada papa flanel yang telah dilapisi kain flanel .

Perlu diketahui, media papa flannel ini, jarang digunakan untuk proses pembelajaran tingkar dasar [SD], SMP, SMU, tetapi lebih banyak digunakan pada sekolah rendah TK.

3. Papan Buletin [Bulletin Board]
Papan bulletin [bulletin board], berbeda dengan papan flanel. Papan bulletin tidak dilapisi kain flanel tetapi gambar-gambar atau tulisan langsung ditempelkan dipapan tersebut.
a. Fungsi papan bulletin :
1] Papan bulletin dapat digunakan untuk menerangkan sesuatu [materi pelajaran, informasi, cerpen, pengumuman, dll]
2] Memberitahukan kejadian dalam waktu tertentu.
3] Semua bentuk media grafis dapat menggunakan papan bulletin.
4] Termasuk pesan-pesan yang sifatnya verbal tertulis, seperti :
[a] karangan
[b] berita,
[c] sajak, cerita-cerita pendek, dan
[d] gambar, poster, karikatur, dsb.
Media Papan Buletin [bulletin board], ba-nyak digunakan, baik di sekolah-sekolah, di rumah-rumah ibadah, maupun dilembaga-lembaga, dan orga-nisasi-organisasi so-sial. Sekarang ini, pa-pan bulletin, bentuk-nya telah dimodifikasi dengan dilapisi gabus,
menggunakan “paku jarun” [paku pines] untuk menem-pelkan informasi, gam-bar dan lain-lain. Papan bulletin medel ini, tidak lagi menggunakan lem, sehingga efektif dan efisien penggunaannya .

b. Kelebihan dan Kelemahan
Media Papan Buletin, juga memiliki kelebihan dan kelemahan, sebagai berikut :
1] Kelebihan Papan Buletin [Bulletin Board]
[a] Bahan pelajaran atau informasi lainnya, dapat dipasang di Papan Buletin.
[b] “pembelajar” dapat menempelkan hasil karya mereka, berupa : cerpen, artikel, sajak, gambar, karikatur, kartun, poster dan karya-karya lain yang merupakan hasil kreasi dari pembelajar.
[c] Dapat digunakan untuk menempelkan suatu informasi atau pengumuman.
[d] Memiliki daya tarik dan dapat memotivasi pembelajar untuk berkarya.

2] Kelemahan Papan Buletin [Bulletin Board]
Media Papan Buletin sifatnya terbuka, maka memiliki kelemahan sebagai berikut :
[a] memudahkan orang lain dapat melepaskan informasi yang tertempel pada Papan Buletin [Bulletin Board], baik sengaja ataupun tidak, sementara informasi tersebut penting atau masih dibutuhkan.
[b] memudahkan orang lain dapat mencoret-rocet atau menambah coretan pada gambar atau tulisan, sehingga merusak keindahan gambar atau informasi yang tertempel di Papan Buletin [Bulletin Board].

4. Lembaran Balik
Lembaran balik, adalah lembaran kertas manilai atau flano yang bersi pesan atau bahan pelajaran. Lembaran kertas manila atau flano tersebut dapat digantungkan pada sebuah gantungan, sehingga memudahkan untuk dibalikkan. Lembaran Balik, memudahkan pengajar untuk menerangkan pelajaran atau informasi lain, baik gambar maupun tulisan. Bahan pelajaran atau gambar pada lembaran balik dapat dijelaskan secara berurutan atau tahap demi tahap. Setiap lembaran balik yang berisi bahan pelajaran atau gambar, dapat diberi nomor seri.
a. Penggunaan dalam Proses Pembelajaran
Lembaran balik, memudahkan pengajar untuk menjelaskan pelajaran secara bertahap, yaitu :
1] Pengajar dapat menerangkan suatu bahan pelajaran pada lembaran
balik, kemudian lembaran balik tersebut dibalik untuk menerang-kan pelajaran pada tahap kedua dan setrusnya.
2] Pada waktu pengajar atau dosen menjelaskan bahan pelajaran di Lembaran Balik, usahakan harus berdiri di samping kakan atau kiri lembaran balik, agar tidak menghalangi pandangan pembelajar.
3] Gunakan alat penunjuk untuk menunjuk pada pesan atau bahan pelajaran atau pada detail gambar di lembaran balik.
Suatu bahan pelajaran atau informasi yang akan dijelaskan pada peserta didik dengan meng-gunakan lembaran balik, mungkin memerlukan 10 s/d 12 gambar atau disesuaikan dengan kebutuhan bahan pelajaran dan waktu.
4] Lembaran-lembaran balik, dapat di-gantungkan pada sebuah gantungan kayu atau besi yang berkaki .
5] Materi pelajaran dapat dijelaskan secara bertahap, mulai dari halaman judul pelajaran, kemudian dilanjutkan dengan bahan pelajaran pada lembaran balik tahap dua dan seterusnya.

b. Cara Membuat Lembaran Balik
Cara membuat Lembaran Balik untuk kepentingan proses pembelajaran di kelas, sebagai berikut:
1] Membuat “tempat gantungan” dari kayu atau besi disebut “rangka gantungan” atau “standar” lembaran balik. Apabila pengajar tidak dapat membuat sendiri, maka dapat menggunakan jasa tukang kayu atau tukang besi, untuk membuat “rangka gantungan ” atau standar Lembaran Balik tersebut.
2] Menggunakan “kertas manila atau flano” dengan ukuran standar yang banyak dijual di toko alat tulis, untuk menulis pesan atau bahan pelajaran.
3] Apabila pengajar menulis atau menuangkan pesan bahan pelajaran di lembaran balik, harus menggunakan hurup dengan “ukuran besar” atau standar. Hal ini, memudahkan “pembelajar” dapat melihat pesan bahan pelajaran di lembaran balik tersebut dengan baik, walaupun “pembelajar” yang posisi tempat duduknya dibagian belakang, akan dapat melihat pesan bahan pelajaran tersebut dengan baik.
4] Apabila pengajar menggunakan gambar, harus sesuai dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran. Artinya, gambar tersebut dari sisi seninya bagus, dan sesuai dengan materi pelajaran dan juga mendukung tujuan pembelajaran.
5] Pesan bahan pelajaran yang dituangkan pada lembaran balik, berisi matei yang pokok-pokok saja dan tidak perlu detail.
6] Lembaran balik harus memiliki unsur keindahan, kerapian, kesederhanaan, keseimbangan, dan penonjolan.
7] Untuk mendukung keindahan lembaran balik, dapat menggunakan “spidol warna”, asal jangan warna-warni.
8] Pada bagian pelajaran tertentu yang dianggap penting, dapat menggunakan “warna tertentu” atau “tanda-tanda tertentu” sebagai unsur penonjolan dari suatu informasi yang dituangkan pada lembaran balik.
9] Pengajar menggantung “lembaran balik” yang telah berisi pesan atau bahan pelajaran ke “rangka gantungan” atau standar Lembaran Balik untuk dijelaskan kepada “pembelajar”.
10] Semua Lembaran Balik yang telah berisi pesan, baik berupa gambar atau pesan berupa tulisan “harus sama besar”.
11] Apabila pengajar tidak dapat menggambar dengan baik, dapat mengambil gambar dari buku-buku, majalah, dan koran, kemudian diperbesar dengan “jasa foto kopy”, atau pengajar dapat menggambar sendiri, apabila dapat menggambar dengan baik.

c. Kelebihan dan Kelemahan Lembaran Balik
Media lembaran balik memudahkan pengajar menerangkan materi pelajaran atau informasi baik berupa gambar atau penjelasan dalam bentuk kata-kata dan dapat disampaikan secara bertahap. Tetapi, media inipun memiliki kelebihan dan kelemahan, sebagai berikut :
1. Kelebihan Media Lembaran Balik
Media lembaran balik memiliki kelbihan, di antaranya adalah sebagai berikut:
a] Lembaran balik, bermanfaat untuk bahan pelajaran yang disajikan dengan menggunakan “gambar seri”, sehingga secara bertahap satu demi satu bahan pelajaran tersebut disampaikan kepada “pembelajar”.
b] Gambar-gambar yang telah digunakan dapat disimpan dengan baik, dan gambar-gambar tersebut dapat dipakai lagi berulang-ulang.
c] Dengan menggunakan lembaran balik, tidak banyak waktu terbuang dalam menyajikan materi pelajaran atau suatu informasi, karena pengajar telah menyiapkan materi pelajaran pada Lembaran Balik di rumah dan ketika akan menggunakan baru pengajar dapat mengantungkannya pada tempat gantungan lembaran balik.
d] Lambaran balik, lebih menarik perhatian, minat “pembelajar”, karena materi pelajaran diberikan secara berseri.
e] Lembaran balik, bila akan digunakan baru dipasang pada gantungannya.
f] Apabila ruangan kelas memungkinkan, setelah pengajar menyampaikan meteri pelajaran, lembaran balik itu dipisah-pisahkan dan dapat digantungkan di dinding, agar pembelajar dapat membaca kembali materi pelajaran yang telah disajikan.

2. Kelemahan Media Lembaran Balik
Media lembaran balik memiliki kelemahan di antaranya, adalah sebagai berikut :
a] Pengajar merasa berat untuk menyiapkan Lembaran Balik di rumah, karena persoalan waktu, biaya, dan tenaga.
b] Pengajar merasa kurang ahli untuk menulis yang baik dan indah di lembaran balik.
c] Mungkin pengajar merasa tidak memiliki keahlian untuk membuat tempat “rangka gantungan” atau standar untuk meng-gantungkan lembaran balik.


d. Alat-alat yang Dibutuhkan untuk Membuat Lembaran Balik
Alat-alat yang digunakan untuk membuat lembaran balik, sebagai berikut :
1] Kayu, besi, almunius, atau bahan lain, untuk membuat rangka gan-tungan atau standar lembaran balik. Ukuran gantungan lembaran balik. Tinggi 150 cm, lebar 63 cm, atau ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan dan pertimbangan kondisi ruangan. Sedangkan ukuran masing-masing “batangan kayu”, disesuaikan dengan kebutuhan, keserasian, dan keindahan sebuah rangka atau standar gantungan lembaran balik.
2] Gunakan kertas manila, flano, atau kertas lain yang tebal. Ukuran lembaran balik: lebar 63.5 cm dan tinggi 87 cm, atau disesuaikan dengan kebutuhan
3] Buatlah gambar atau kopy gambar dari buku-buku, majalah, dan koran yang besarnya disesuaikan dengan kertas manila yang telah disiapkan.
4] Alat bantu lain, yang diperlukan seperti pensil, spidol, cat minyak, gunting, lem, gergaji kayu atau besi paku dan lain-lain.


Apabila tidak memiliki rangka gantungan, pengajar dapat men-jepitkan lembaran balik tersebut pada papan tulis dengan menggunakan “penjepit kertas” yang agak besar dan banyak dijual di toko alat-alat tulis. Hal ini memudahkan pengajar untuk menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan lem-baran balik dan tidak tergantung pada “rangka gantungan” lembaran balik.
Keterangan:

Secara rinci penggunaan kayu dan kertas manila atau flano untuk pembuatan Lembaran Balik, sebagai berikut :
1] Tinggi kayu 150 cm, dibutuhkan 2 [dua] batang kayu untuk sisi kiri dan kanan dengan ukuran 2x4x150 cm atau disesuaikan dengan kebutuhan.
2] Lebar standar gantungan : 63 cm. Kayu yang dibutuhkan :
[a] untuk tempat gantungan kertas, berbentuk bulat 1 [satu] buah, dengan ukuran kayu ± 3 c x 63 c, dan
[b] kayu peyangga tengah “persegi empat” dengan ukuran 2x4x63c.
3] Jarak antara ujung kayu atas dengan tempat gantungan kertas : 5 c.
4] Jarak antara penyangga tengah dengan tempat gantungan kertas dibagian atas : 85 c.
5] Jarak antara alas [spatu] dengan pe-yangga tengah : 62 c.
6] Dibutuhkan dua buah alas [spatu] dengan ukuran: 8x10x30c. Alas [spatu] diusahakan “bebannya
agak berat”, karena berfungsi untuk menahan beban kayu dan kertas manila atau karton yang digantungkan.
7] Kertas manila atau karton yang digu-nakan berukuran : lebar 63.5 c, tinggi 87 c dan tebal sesuai dengan kertas manila dan karton yang dijual di toko alat-alat tulis.

Sebagai calon pengajar dan pengajar harus berani dan selalu mencoba untuk mendisain, membuat dan latihan menggunakan media pembelajaran. Tidak perlu takut salah dan gagal, karena pada umumnya keberhasilan bermula dari mencoba dan mungkin salah dan gagal. Dari mengevaluasi kesalahan dan kegagalan tersebut, kita akan selalu ingat bahwa hal tersebut sudah pernah kita lakukan itu salah dan gagal. Belajar dari kesalahan dan kegagalan tersebut, kita mencoba untuk mencapai keberhasilan. Nilai dari sebuah keberhasilan dan kegagalan sebenarnya bukanlah dinilai dari hasil akhir saja, tetapi juga dinilai dari proses yang telah dilakukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers