Kamis, 13 Oktober 2011

PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

1. Peran Pengajar, Dosen, dan Media pembelajaran
Pekerjaan pengajar adalah pekerjaan professional, karena itu diperlukan kemampuan dan kewenangan. Kemampuan dapat dilihat dari segi kesanggupan menjalankan perannya sebagai pengajar, pengajar, pembimbing, administrator dan sebagai transfer ilmu pengetahuan.
Setiap pengajar dalam menjalankan tugasnya, setidak-tidaknya akan berhadapan dengan lima tantangan, yaitu : [1] Apakah pengajar memiliki pengetahuan, pemahaman dan pengertian yang cukup tentang media pembelajaran? [2] Apakah pengajar memiliki keterampilan cara menggunakan media tersebut dalam proses pembelajaran di kelas? [3] Apakah pengajar mampu membuat sediri alat-alat media pendidikan yang dibutuhkan? [4] Apakah pengajar melakukan penilaian terhadap media yang akan atau yang telah digunakan? [5] Apakah pengajar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang administrasi media pembelajaran?
Media pembelajaran sebagai pembawa atau menyalurkan pesan, pada mulanya pengajar hanya menganggap “media sebagai alat bantu mengajar pengajar [teaching aids]. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, yaitu gambar, model, objek dan lain-lain yang dapat memberikan pengalaman konkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar pembelajar. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio sekitar abad ke-20, berupa alat visual yang digunakan dan dilengkapi dengan alat audio yang kemudian dikenal adanya alat audio visual atau audio visual aids [AVA], yang mempengaruhi penggunaan alat-alat dalam proses pembelajaran. Maka dari sini, muncul bermacam peralatan yang digunakan pengajar untuk menyampaikan pesan ajaran kepada pembelajar melalui alat-alat yang mengutamakan “penglihatan” [visual] dan “pendengaran” [audio] untuk menghindari verbalisme yang masih mungkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata. Maka, pada akhir tahun 1950, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar .
Pada tahun 1960 - 1965, teori tingkah laku [behaviorism theory] ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini, mendorong orang untuk lebih memperhatikan pembelajar dalam proses pembelajaran, karena menurut teori ini, mendidik adalah mengubah tingkah laku pembelajar. Perubahan tingkah laku ini harus tertanam pada diri pembelajar sehingga menjadi adat kebiasaan. Maka, setiap ada perubahan tingkah laku positif ke arah tujuan yang dikehendaki, harus diberi penguatan [reinforcement], berupa pemberitahuan bahwa tingkah laku tersebut telah betul. Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem [system approach] mulai menampakkan pengaruhnya. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya “media” sebagai bagian integral dalam program pembelajaran. Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik pembelajar serta diarahkan kepada perubahan tingkah laku pembelajar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Maka, pengajar-pengajar mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah laku pembelajar. Dari sini maka lahirlah konsep penggunaan “multi media” dalam kegiatan pembelajaran. Uraian di atas, memberikan gambaran bahwa sudah selayaknya pengajar tidak lagi memandang hanya media sebagai alat bantu belaka untuk mengajar, tetapi lebih sebagai alat penyalur pesan dari pemberi pesan [pengajar] ke penerima pesan [pembelajar]. Maka sebagai pembawa pesan, media tidak hanya digunakan oleh pengajar tetapi yang lebih penting lagi dapat pula digunakan oleh pembelajar. Oleh karena itu, sebagai penyaji dan penyalur pesan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili pengajar menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas dan menarik. Maka, fungsi media tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, walau tanpa kehadiran pengajar secara fisik dalam proses pembelajaran di kelas.
Dengan peranan media yang semakin meningkat ini seringkali menimbulkan kekhawatiran di pihak pengajar. Artinya, pengajar dan mungkin juga dosen, takut apabila fungsinya akan digeser oleh media pendidikan atau media pembelajaran. Namun kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu sebenarnya tak perlu ada kalau kita ingat dan paham betul tugas dan peranan pengajar yang sebenarnya. Karena, tugas dan peranan pengajar selain mengajar juga memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada pembelajarnya adalah tugas penting yang tidak dapat digantikan dan mungkin selama ini belum dilaksanakan sepenuhnya. Dengan demikian, pengajar, dosen dan media pembelajaran hendaknya bahu membahu dalam memberi kemudahan belajar bagi pembelajar. Maka, perhatian dan bimbingan secara individual dapat dilaksanakan oleh pengajar dengan baik sementara informasi dapat pula disajikan secara jelas, menarik, teliti, efisien dan efektif oleh media pembelajaran .

2. Pengetahuan, Pemahaman Pengajar tentang Media Pembelajaran
Setiap pengajar dituntut memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran. Pengetahuan dan pemahaman terse but, meliputi :
a. Media sebagai alat komunikasi, dapat gunakan untuk lebih meng efektifkan proses pembelajaran.
b. Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
c. Situasi proses belajar.
d. Hubungan antara metode mengajar dan media pembelajaran.
e. Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran.
f. Memilih dan menggunakan media pembelajaran.
g. Berbagai jenis alat dan teknik media pembelajaran.
h. Usaha inovasi media pembelajaran, dll .
Untuk memilih media pembelajaran apa yang kiranya paling cocok dan efektif digunakan dalam suatu proses pembelajaran, tidaklah mudah, karena sampai sekarang ini belum ditemukan suatu formulasi atau rumusan, sehingga dapat dijadikan pedoman secara standarisasi. Sulit dan rumitnya pemelihan media instruksional tersebut, disebabkan beberapa faktor yang saling berhubungan, seperti tergambar pada pertanyaan-pertanyaan berikut ini : [a] Seberapa jauh situasi dan latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu ditiru dalam proses latihan? [b] Media apa yang dianggap paling praktis untuk memaketkan, melaksanakan dan memperbarui prosees pembelajaran? [c] Apakah diperlukan perlengkapan untuk menggunakan media yang dipilih itu? Jika pertanyaan-pertanyaan ini dijawab ya, apakah sudah tersedia? Apakah pengadaan peralatan tertentu itu dapat dipertanggung jawabkan untuk keperluan pelajaran yang bersangkutan? [d] Apakah media itu sesuai dengan kebutuhan belajar pembelajar? Artinya, sesuai jika dlihat dari faktor kebudayaan, usia, kebiasaan belajar, dan sebagainya. [e] Sejauh manakah pencapaian pembelajar harus sesuai dengan saran yang telah ditentukan? [f] Apakah nilai bahan pelajaran sepadam dengan biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan media itu? Dari pertanyaan yang dikemukakan di atas mengandung makna, bahwa dalam memilih media “merupakan bagian integral” dari proses pembelajaran dan tidak terpisah. Artinya dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, tentu tidak dapat dilepaskan dari : [a] Tujuan pembelajaran, [b] Materi pelajaran, [c] Metode mengajar [d] Kebutuhan pembelajar, dan [e] Tersedianya alat-alat yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
Pertanyaan-pertanyaan di atas, terlihat bahwa betapa rumitnya pemelihan media pembelajaran, bahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut juga mengandung makna bahwa “memilih media” merupakan bagian integral dari proses perencanaan pelajaran. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman pengajar yang cukup tentang media pembelajaran merupakan hal yang mutlak, karena dengan pengetahuan dan pemahaman tersebut seorang pengajar mampu menentukan media yang dipakai tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran, sesuai dengan materi, sesuai dengan metode, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pembelajar, dan alat-alat yang dibutuhkan tersebut tersedia dan dapat digunakan dengan baik.
Untuk menggunakan media pembelajaran dengan baik, efisein dan efektif, diperlukan kemampuan dan keterampilan membuat dan memilih media yang akan digunakan dalam proses belajar pengajaran. Maka, sebelum membuat dan memilih media, terlebih dahulu mengenal jenis-jenis media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sebagai berikut :
1] Media yang dapat digunakan
sendiri oleh pembelajar, yaitu, berupa :
[a] media rekaman, dan
[b] bahan belajar mandiri
2] Media yang memerlukan kehadiran pengajar,
yaitu, berupa :
[a] papan tulis atau whiteboard,
[b] transparansi OHT, dan
[c] lembaran balik.
3] Media yang tidak memerlukan keahlian
khusus, seperti :
[a] papan tulis atau whiteboard,
[b] transparansi OHP, dan
[c] bahan cetak [buku, handout,modul, diktat].
4] Media yang memerlukan keahlian khusus, yaitu, seperti :
[a] program slide,
[b] program film,
[c] program video,
[d] program audio cassette,
[e] program VCD dan LCD
[f] program TV
[g] program komputer dan internet

Prof Ely [1982], menyatakan bahwa untuk memilih media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya, dalam arti media sebagai komponen sistem instruksional secara keseluruhan. Maka menurutnya, meskipun tujuan dan isinya su dah diketa -
hui, tetapi faktor lain dalam proses pembelajaran perlu dipertimbangkan, agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan dengan baik, seperti :
a] karakteristik pembelajar
b] strategi belajar mengajar
c] organisasi kelompok belajar
d] alokasi waktu
e] sumber belajar
f] prosedur penilaian perlu dipertimbangkan .
Dengan dasar ini, maka Prof Ely, menyarankan untuk pendekatan praktis, agar mempertimbangkan pula beberapa faktor seperti media apa saja yang tersedia, berapa harganya, berapa lama diperlukan untuk mendapatkannya, dan format apa yang memenuhi selera pemakai yaitu pembelajar dan pengajar .
Selain pandangan di atas, berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap 33 orang pengajar di Yogyakarta yang dilakukan oleh mahasiswa program Akta IV-UII angkatan XIV tahun akademi 2004/2005, tentang bagaimanakah pemahanan pengajar terhadap media pembelajaran, alasan menggunakan media dan manfaat menggunakan media dalam proses pembelajaran? Dari hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa :
Pertama, pemahaman pengajar terhadap Media pembelajaran, bahwa media adalah : [1] media pembelajaran sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi pelajaran dalam proses pembelajaran dan sebagai alat komunikasi untuk merangsang pembelajar belajar. [2] media pembelajaran dapat menggantikan objek asli yang dipelajari. [3] media pembelajaran, sebagai alat bantu untuk mendukung proses pembelajaran yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan pembalajaran [4] pesan [materi pelajaran] yang disampaikan pengajar dapat diterima pembelajar dengan baik. [5] penggunaan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, materi, metode dan tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat, ketertarikan dan kemampuan pembelajar terhadap materi pelajaran. [6] media pembelajaran, sebagai alat/sarana yang digunakan untuk mempermudah penyampaian materi pelajaran dalam proses pembelajaran.
Kedua, alasan pengajar menggunakan media dalam proses pembelajaran, adalah : [1] media sifatnya praktis, mudah digunakan dalam proses pembelajaran dan agar proses serta produk atau hasil belajar pembelajar tidak menyimpang dari objek dan masalah yang dipelajari. [2] memberikan kemudahan bagi pengajar untuk menjelaskan materi pelajaran serta mudah dipahami pembelajar. [3] menghindari kejenuhan pengajar maupun pembelajar. [4] mengembangkan kreativitas pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran. [5] mendayagukan dan mengembangkan potensi SDM dalam meningkatkan mutu pendidikan. [6] optimalisasi proses pembelajaran dengan mempertimbangkan kamjauan IPTEK. [7] membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran. [8] variasi pengajar dalam menggunakan media dan metode mengajar. [9] materi yang disampaikan mudah diterima dan dipahami pembelajar. [10] dapat menumbuhkan minat, ketertarikan dan kemampuan pembelajar terhadap materi pelajaran.
Ketiga, manfaat media pembelajaran bagi pengajar dalam proses pembelajaran, adalah : [1] meningkatkan variasi belajar, motivasi dan memudahkan pembelajar dalam menerima materi pelajaran. [2] membantu pengajar dalam proses pembelajaran. [3] memberikan penjelasan serta gambar dengan cara yang mudah dipahami pembelajar. [4] menciptakan suasana yang sinergis. [5] membiasakan pengajar kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. [6] lebih efisien dari segi waktu. [7] memberikan kemudahan bagi pembelajar dalam penyerapan materi pelajaran. [8] meningkatkan kualitas pengajar dalam mengajar dan meningkatkan prinsip belajar sederhana dan tepat guna. [9] dengan media pembelajaran, materi pelajaran dapat disampaikan secara sistematik dan terfokus. [10] dapat memperjelas penyajian materi pelajaran, lebih efisien dan efektif, dapat menumbuhkan motivasi, minat, ketertarikan pembelajar dalam belajar. [11] metode mengajar bervariasi, menarik, sehingga pembelajar tidak merasa bosan. [12] menghemat tenaga, karena tidak harus berulang kali menulis di papan tulis dan dapat dipakai berulang kali. [13] materi yang disampaikan dengan mudah diserap pembelajar. [14] terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan pembelajar. [15] tercipta suasana belajar yang menyenangkan, tanpa tekanan dan tidak membosankan .

3. Keterampilan Memilih, Menggunakan, Membuat Media pembelajaran
Untuk menggunakan media pembelajaran dengan baik dan efisien dalam proses pembelajaran, diperlukan keterampilan memilih media yang akan digunakan, dibutuhkan keterampilan dan keahlian untuk membuat media pembelajaran. Oleh karena itu, pengajar atau calon pengajar harus berusaha memilih dan membuat media pembelajaran yang dapat memenuhi kriteria-kriteria sebagai sebuah media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
a. Memilih dan Menggunakan Media pembelajaran
Setiap pengajar tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang kemediaan saja, tetapi harus memiliki keterampilan untuk memilih dan menggunakan media dengan baik dalam suatu proses pembelajaran dan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. Maka, kriteria-kriteria pemilihan tersebut antara lain, sebagai berikut :

1] Tujuan pengajaran
2] Bahan pelajaran
3] Metode mengajar
4] Tersedianya alat yang dibu-tuhkan
5] Jalannya pelajaran
6] Penilaian hasil belajar
7] Pribadi pengajar
8] Minat dan kemampuan pem-belajar
9] Situasi pengajaran yang sedang berlangsung .


Dick dan Carey [1978], me-nyebutkan bahwa di samping kese-suaian dengan tujuan pembelajaran, masih ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media, yaitu : Pertama, tersedia sumber setempat, artinya apabila media tersebut tidak tersedia, maka harus dibeli atau dibuat sendiri. Kedua, apakah tersedianya dana, tenaga, dan fasilitas Ketiga, kepraktisan dan ketahanan media untuk jangka waktu yang lama, artinya dapat digunakan dalam kondisi apapun dan waktu kapanpun, serta mudah dibawa ke mana-mana sesuai dengan keperluan. Keempat, adalah faktor efektivitas dan efesiensi biaya, apabila dimanfaatkan untuk jangka waktu yang relatif lama. Media yang pengadaannya memerlukan investasi mahal, tetapi sifatnya tidak dapat disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan, misalnya materinya sudah kedaluwarsa, maka lebih baik memilih media yang murah seperti brosur dan lain-lain yang daya tahannya lebih lama.
Dari keterangan di atas, terlihat bahwa antara media pembelajaran dengan faktor-faktor pengajaran lainnya sangat erat hubungannya dan interdependensi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya dalam proses pembelajaran. Artinya, masing-masing komponen tersebut tidak terpisah, tapi menyatu satu dengan yang lain. Tetapi selain hal-hal tersebut di atas, ada juga komponen lain yang perlu dan harus diperhatikan pada saat memilih dan menggunakan media, yaitu :
1] Daya jangkauan, terhadap pengajaran individual, pengajaran kelompok, dan pengajaran masal.
2] Keluwesan pakai, yaitu kapan media tersebut akan digunakan, di mana akan digunakan dan audiennya siapa.
3] Ketergantungan, artinya media yang digunakan juga tergantung pada sarana dan fasilitas yang lain.
4] Kendali, siapa yang akan mengendalikan media tersebut?
5] Atribut, artinya kualitas hasil media yang digunakan dalam proses belajar?
6] Biaya, artinya media yang digunakan mahal atau murah dan juga daya tahannya?


b. Membuat Media Pembelajaran
Setiap pengajar, selain menggunakan media pembelajaran yang telah diproduksi oleh produser media, juga diharapkan dapat membuat sendiri media pembelajaran yang sederhana dan sesuai dengan kriteria pembuatan media. Tetapi, untuk membuat media pembelajaran diperlukan keterampilan [skill]. Pengajar, penatar, presentator yang berkeinginan menjelaskan sesuatu ide, informasi, suatu gagasan secara baik dan jelas, diperlukan keterampilan untuk menuangkan pesan tersebut. Sebagai contoh saja, ketika mendisaian “media transparansi”, pada umumnya “semua” ide-ide, informasi, gagasan yang akan dijelaskan dituangkan pada transparansi dengan “prinsip menyampaikan informasi sedetail-detailnya”, sehingga sebuah transparansi terlihat penuh, ramai, berjubel, hurup-hurup yang kecil, terkesan kurang sederhana, dan bahkan sisi keindahan terabaikan. Hal ini menyebabkan penerima pesan sulit memahami ide-ide, informasi, gagasan yang dituangkan pada transparansi tersebut. Suatu disain transparansi yang baik, hanya dapat memuat “hal-hal yang pokok-pokok saja”, tidak perlu detail, memiliki unsur kesederhanaan, keindahan dan apabila disain transparansi dengan menggunakan gambar, maka gambar tersebut harus “mengandung unsur gerak” suatu perbuatan dan bukan gambar mati. Dengan dasar ini, maka seorang pengajar harus memiliki skill atau keterampilan mendisain atau membuat “media pembelajaran”.
Selain memiliki skill atau keterampilan, disain media tersebut harus juga memenuhi syarat-syarat tertentu, sebagai berikut :


1] Rasional, yaitu sesuai dengan akal dan mampu dipikirkan oleh kita
2] Ilmiah, yaitu sesuai dengan perkembangan akal dan mampu dipikirkan oleh kita.
3] Ekonomis, yaitu sesuai dengan kemampuan pembiayaan yang ada, hemat dan efisien.
4] Praktis, yaitu dapat digunakan dalam kondisi praktek di sekolah dan bersifat sederhana .
Untuk itu, kepada para pengajar selain dituntut dapat menggunakan media pembelajaran yang telah ada, juga dituntut kemampuannya untuk dapat membuat media sederhana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Sebagai contoh, pelajaran ibadah haji yang selama ini dalam proses pembelajaran dilakukan secara verbalisme semata yang tentu banyak mengandalkan kemampuan daya ingat pengajar dan sisiwa yang mungkin saja terjadi kelupaan dalam menerangkan. Alasan lain, mungkin jugu pengajar itu sendiri belum melaksanakan ibadah haji, sehingga apa yang dijelaskan itu hanya secara teori dan mungkin juga ada hal-hal yang terlupakan secara praktek. Untuk mengatasi hal ini, seorang pengajar dapat mengemas atau menggunakan kemasan produk media pelaksanaan ibadah haji dalam suatu rekaman video atau VCD yang dapat digunakan untuk disampaikan dalam proses pembelajaran. Hal ini, sangat membantu pengajar dalam menjelaskan, sehingga tidak ada hal-hal yang terlupakan dalam menjelaskan pelajaran ibadah haji.

4. Nilai dan Kegunaan Media Pembelajaran
Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya tujuan pengajaran. Kedudukan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar yang ada dalam komponen metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh pengajar. Dari sini, nilai dan kegunaan media pembelajaran yang digunakan untuk dapat mempertinggi belajar pembelajar, mempertinggi hasil belajar yang dicapai pembelajar dalam proses pembelajaran.
a. Nilai Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang digunakan dapat mempertinggi belajar pembelajar dalam proses pengajaran dan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai pembelajar. Nana Sudjana, menyatakan ada beberapa alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar pembelajar.
Alasan pertama, berkenaan dengan manfaat media pembelajaran dalam proses pembelajaran pembelajar, antara lain :

1] Pengajaran akan lebih menarik perhatian pembelajar, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2] Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembelajar dan memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran lebih baik.



3] Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komuni-kasi verbal, sehingga membuat pembelajar cepat bosan, pengajar ke-habisan tenaga dan mungkin juga materi pelajaran, apalagi pengajar mengajar setiap jam pelajaran.
4] pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian pengajar saja, tetapi pembelajar dapat melakukan aktivitas lain, seperti mencatat, mengamati, mendemon-strasikan, dll.
Alasan kedua, berkenaan dengan taraf berpikir pembelajar, artinya taraf berfikir manusia mengikuti tahap perkembangan, yaitu dimulai dari berpikir konkrit menuju ke berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju berpikir kompleks. Maka. penggunaan Media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut, sebab dengan menggunakan media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkritkan dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan .

b. Kegunaan Media Pembelajaran
Secara umum kegunaan media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah :
1] Memperjelas sajian pesan agar tidak terlalu verbalistik dalam bentuk kata-kata tertulis dan lisan belaka.
2] Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :
[a] Objek yang terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film, dan model.
[b] Objek yang kecil dapat dibantu dengan projector mikro, film bingkai, film, dan gambar.
[c] Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu dapat ditampilkan lagi lawat rekaman film, vidio, film bingkai, foto, maupun verbal.
[d] Objek yang terlalu kompleks [misalnya mesin-mesin] dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain.
[e] Konsep yang terlalu luas, seperti gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain dapat divisualisasikan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.
3] Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat di atasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk :
[a] Menimbulkan kegairahan belajar.
[b] Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
[c] Memungkinkan anak didik dapat belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4] Dengan sifat yang unik pada tiap pembelajar ditambah dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda antara pengajar dan pembelajar, sedangkan kurikulum dan materi pengajaran ditentukan sama untuk semua pembelajar, maka pengajar mengalami kesulitas bilamana semuanya itu harus ditangani sendiri. Pengajar dapat mengatasi hal-hal tersebut dengan menggunakan media pembelajaran, yaitu :
[a] Kemampuan pengajar memberikan perangsang yang sama
[b] Kemampuan pengajar dalam mempersamakan pengalaman.
[c] Kemampuan pengajar untuk menimbulkan persepsi yang sama .
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa “manfaat media” pengajaran adalah :
1. Lebih menarik perhatian
2. Menumbuhkan motivasi
3. Bahan pengajaran lebih jelas
4. Metode bervariasi
5. Pembelajar banyak melakukan kegiatan belajar
Jadi, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi atau penerima pesan. Dengan demikian, peranan media dalam proses pembelajaran sebagai teknologi pembawa pesan [informasi] yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pengajaran atau sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pelajaran.
Penilaian Hasil Belajar, suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Penilaian hasil belajar baru dapat dilakukan dengan baik dan benar bila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya.
Konsep pokok mengenai penilaian, tes dan pengukuran, terutama yang berkenaan dengan pengertian, peranan, fungsi dan etika tes, perencanaan tes, konstruksi butir soal baik tes uraian [terbatas dan bebas] maupun tes objektif dalam beberapa tipe, pengadministrasian tes [mencakup perakitan naskah tes, penulisan petunjuk tes, produksi naskah tes, dan beberapa pertimbangan pelaksanaan tes], pengolahan dan pendekatan penilaian, serta analisis soal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers