Sabtu, 08 Oktober 2011

Tak Perlu Berkecil Hati, para Guru

Malam ini Jejeran Bantul ramai dengan hiruk pikuk manusia. Stadion yang menjadi markas kebanggaan Persiba Bantul itu penuh sesak dibanjiri lautan manusia. Bukan karena sedang ada pertandingan sepak bola, melainkan karena ada Acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihadiri oleh Habib Syeh bin Abdul Qadir as-Saqqaf dari Solo.

Habib kondang dan kharismatik yang memiliki suara merdu dan diiringi dengan hentakan melodi nan ritmis dari grup rebana Ahababul Musthofa itu memang mampu menarik warga Bantul dan sekitarnya untuk hadir memadati halaman luar Stadion Sultan Agung itu. Para jamaah pun terlihat antusias hendak mengikuti acara Maulid yang sudah cukup sering diadakan di Bantul itu. Beragam atribut sepertinya sudah disiapkan semenjak dari rumah, mulai dari pakaian putih-putih, buku sholawat, dan bahkan bendera, mulai ukuran kecil hingga bendera besar.

Sebelum memulai maulid, Sang Habib berpesan pada jamaah yang jumlahnya ribuan itu, bahwa selama pembacaan sholawat/maulid sebaiknya bendera-bendera besar itu tidak dikibar-kibarkan, dikhawatirkan akan mengganggu jamaah yang lain. Namun memang sulit kiranya mengatur sekian banyaknya manusia yang memiliki pikiran berbeda-beda. Ketika lantunan shalawat mulai dibacakan, dengan iringan musik rebana, maka bendera-bendera itupun tak ubahnya seperti artis dangdut yang bergoyang-goyang ke kiri ke kanan dengan penuh semangat, seolah tiada bekasnya anjuran Sang Habib sebelum shalawat dimulai.

Satu hal yang terus saja saya pikirkan, bahkan hingga saya kembali ke tempat saya menginap. Mengapa anjuran seorang Habib yang sangat kharismatik, kepada jamaah pengikutnya itu seolah tidak berbekas. Meskipun satu dua orang masih mau mengindahkannya, tapi tidak sedikit pula yang masih melanggar anjuran Habib tersebut.

Ah...kenapa hal itu harus aku risaukan, bukankah petunjuk (huda) itu adalah urusan kewenangan Allah. Bahkan para rasul pun hanya bertugas menyampaikan wahyu semata (ayat yang menerangkan tentang hal ini, banyak sekali. Salah satunya adalah Q.S An-Nur ayat 54). Urusan umatnya sadar atau tidak, mau mengikuti atau tidak, itu urusan Allah.

Untuk apa saya terkadang merasa sedih ketika siswa-siswa saya membandel dan berbuat yang tidak semestinya. Bukankah kewajiban kita itu sekadar menyampaikan, mengingatkan dan mengarahkan mereka ke arah kebaikan. Urusan mereka akan mengikuti arahan kita atau tidak, itu urusan Allah. Satu hal yang harus kita jaga dalam peran kita sebagai seorang guru adalah jangan pernah merasa kecil hati hingga berlarut-larut dalam kesedihan ketika siswa yang kita ajar tidak seperti yang kita harapkan. Apalagi sampai menyesali dan menyalahkan diri sendiri...jangan kawan. Wilayah kita hanya berusaha, hasilnya Allah yang menentukan. Akan tetapi tidak lantas kita berpasrah diri dan lalu tidak berusaha sekuat tenaga, sikap tawakkal itu hendaknya selalu diiringi dengan rasa optimis dan semangat untuk menjalankan peran kita dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers