Selasa, 17 Januari 2012

AUSUBEL DAN TEORI BELAJAR ASIMILASI

I. Pendahuluan
Dapat berpikir dan berbahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena memiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai makhluk yang mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya manusia menjelajah ke setiap fenomena yang nampak bahkan yang tidak nampak. Dengan bahasanya, manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya.
Salah satu objek pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Pendapat para ahli tentang belajar bahasa tersebut bermacam-macam. Di antara pendapat mereka ada yang bertentangan namun ada juga yang saling mendukung dan melengkapi. Pemikiran para ahli tentang teori belajar bahasa ini begitu variatif dan menarik. Salah satu aliran yang mempunyai pengaruh terhadap praktik belajar yang dilaksanakan di sekolah adalah aliran psikologi kognitif. Aliran ini telah memberikan konstribusi terhadap penggunaan unsur kognitif atau mental dalam proses belajar. Berbeda dengan pandangan aliran behavioristik yang memandang belajar sebagai kegiatan yang bersifat sebagai mekanistik antara stimulus dan respon, aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus atau respon yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar.
Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak yang menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghafal. Belajar yang demikian itu tidak banyak bermakna bagi anak. Belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagia anak, sebagaimana konsep yang diungkapkan oleh Ausubel. Dalam makalah ini, akan disampaikan sedikit menganai konsep Ausubel tersebut.

II. Pembahasan
a. David Paul Ausubel
Ausubel bernama lengkap David Paul Ausubel. Ia lahir dan dibesarkan di Brooklyn, New York pad 25 Oktober 1918. Dia kuliah di University of Pennsylvania, mengambil kursus pra-medis dan jurusan Psikologi. Dia jug merupakan lulusan dari Sekolah Kedokteran di Middlesex University. Ia mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang Psikologi Perkembangan dari Universitas Columbia. Kiprahnya dalam dunia pendidikan diawali dari dunia kedokteran tatkala ia magang di Rumah Sakit (NY City Departemen Rumah Sakit) yang terletak di bagian bawah sisi timur Manhattan, termasuk Little Italy dan Chinatown tahun 1944 sebagai seorang asisten ahli bedah dan psikiatris publik. Ia juga pernah turut terlibat dalam perawatan pengungsi pasca Perang Dunia II di Jerman.
Selama perjalanan karirnya, ia pernah menduduki berbagai jabatan di berbagai Universitas terkemuka. Pada tahun 1950, ia menerima sebuah jabatan dari Biro Penelitian Pendidikan di Universitas Illinois. Ia bekerja di sana selama enam belas tahun. Pada saat ia berada di Univesitas Illinois, ia mulai menerbitkan karya-karya dalam bidang psikologi kognitif secara ekstensif. Tahun 1966, ia meninggalkan Universitas Illinois untuk menerima sebuah jabatan pada departemen Psikologi Terapan di Institut Ontario, Toronto. Pada tahun 1968, ia menjadi Profesor dan Kepala Departemen Pendidikan Psikologi, Sekolah Pascasarjana Universitas New York. Ia berada disana hingga ia pensiun dari dunia kependidikan pada tahun 1973.
Setelah pensiun, ia kembali ke praktek psikiatri anak di Rockland Psychiatric Center. Minat utamanya dalam psikiatri telah psikopatologi umum, perkembangan ego, kecanduan obat, dan psikiatri forensik. Ausubel telah menerbitkan beberapa buku dalam psikologi perkembangan dan pendidikan, dan lebih dari 150 artikel dalam jurnal psikologis dan psikiatris. Pada 1976 ia menerima Thorndike Award dari Asosiasi Psikolog Amerika untuk "Gelar Kehormatan untuk Kontribusi dalam Psikologi Pendidikan". Dia pensiun dari kehidupan profesional pada tahun 1994 untuk mencurahkan waktunya untuk menulis dan dihasilkan empat buah buku. Dia meninggal pada 9 Juli 2008.

b. Teori Belajar Asimilasi (Assimilation Theory of Learning)
Teori ini berawal dari pendekatan kognitif yang diungkapkan oleh para psikolog kognitivistik. Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang anak.


Para kognitivistik beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Oleh sebab itu perkembangan bahasa harus berlandas pada atau diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi manusia. Dengan demikian urutan-urutan perkembangan kognisi seorang anak akan menentukan urutan-urutan perkembangan bahasa dirinya.
Menurut teori ini, belajar adalah perubahan dan pemahaman yang tidak selalu dapat dilihat dalam bentuk tingkah laku. Belajar merupakan proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor lain. Proses belajar mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. Menurut aliran ini kita belajar disebabkan oleh kemampuan kita menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi di dalam lingkungan. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur dalam bahasa yang didengar di sekelilingnya. Pemahaman, produksi, komprehensi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil dari proses kognitif anak yang secara terus menerus berubah dan berkembang.Sebagaimana disampaikan Novack, Ausubel membagi perkembangan bahasa anak menjadi dua tahap, yaitu: 1) tahap pembentukan konsep, yang berlangsung sampai anak meraih satu atau dua ribu konsep. 2) tahap asimilasi konsep, yaitu saat anak lebih dominan meraih konsep dengan mengasimilasikan data baru ke struktur kognitifnya.
Ausubel juga mengemukakan bahwa ada dua macam belajar. Pertama, belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakma terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya. Kedua, belajar hafalan (rote learning). Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini diperlukan bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya.
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan (Reception) atau penemuan (Discovery). Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.
Gambaran skema dari dua dimensi belajar tersebut adalah sebagai berikut:
Reception Learning


Meaningful Learning Rote Learning


Discovery Learning
Menurut Ausubel, proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Dalam berinteraksi dengan lingkungan, individu hanya dapat menggabungkan (mengasimilasikan) hal-hal yang dapat ia pahami ke dalam struktur kognitifnya, atau hal-hal yang agak sesuai atau mirip dengan apa yang ada pada struktur kognitifnya. Jadi asimilasi adalah proses yang dijalankan seseorang untuk menggabungkan atau mengambil dunia realitas yang agak sesuai dengan skema-skema yang ada pada struktur kognitifnya. Ketika seseorang bertemu dengan materi asing benar-benar baru, kemudian melakukan belajar menghafal (rote learning). Belajar menghafal ini yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi pada pembangunan struktur kognitif baru yang di kemudian hari dapat digunakan dalam pembelajaran bermakna.
Pengetahuan diorganisasikan dalam ingatan seseorang dalam struktur hierarkis. Artinya bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif dan abstrak membawahi pengetahuan yang lebih spesifik dan konkrit. Demikian juga pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh seseorang akan dapat memudahkan perolehan pengetahuan baru yang lebih rinci. Gagasannya mengenai cara mengurutkan materi pembelajaran dari umum ke khusus, dari keseluruhan rinci yang sering disebut sebagai subsumtive sequence menjadikan belajar lebih bermakna bagi anak didik.
Penggolongan (subsume) itu adalah dengan memasukkan materi baru ke dalam struktur kognitif seseorang. Dari perspektif Ausubel, inilah makna belajar. Bila informasi yang dimasukkan ke dalam struktur kognitif peserta didik itu diorganisasikan secara hierarki. Materi baru dapat dimasukkan dalam dua cara yang berbeda, dan untuk kedua hal ini, tidak berarti pembelajaran berlangsung kecuali yang stabil terdapat struktur kognitif. Struktur yang ada ini menyediakan kerangka kerja di mana pembelajaran baru berhubungan, hierarkis, untuk informasi sebelumnya atau konsep dalam struktur kognitif seseorang.
Dua jenis subsumption adalah: 1. Subsumption korelatif- materi baru adalah perpanjangan atau elaborasi dari apa yang sudah diketahui. 2. Subsumption derivatif- material atau hubungan baru dapat diturunkan dari struktur yang ada.
Informasi dapat dipindahkan dalam hierarki, atau dikaitkan dengan konsep-konsep atau informasi lain untuk membuat interpretasi atau makna baru. Dari jenis subsumption ini, konsep yang baru dapat muncul, dan konsep-konsep sebelumnya dapat diubah atau diperluas untuk menyertakan lebih dari informasi yang ada sebelumnya.
Berdasarkan pandangannya tentang belajar bermakna, Ausubel mengajukan empat prinsip pembelajaran, yaitu:
1. Pemandu awal (advance organizer)
Pemandu awal atau titian kognitif (cognitive bridge) dapat digunakan guru dalam membantu mengaitkan konsep lama dengan konsep baru yang lebih tinggi maknanya. Penggunaan advance organizer yang tepat dapat meningkatkan pemahaman berbagai macam materi, terutama materi pelajaran yang telah mempunyai struktur yang teratur. Pada saat mengawali pembelajaran dengan prestasi suatu pokok bahasan sebaiknya ‘advance organizer’ itu digunakan, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
2. Diferensiasi progresif (Progressive Differentiation)
Differensiasi progresif adalah pemecahan konsep hingga menjadi konsep-konsep baru. Dalam proses belajar bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep. Caranya, unsur yang paling umum dan inklusif diperkenalkan dulu, kemudian baru yang lebih mendetil. Berarti pembelajaran mengarah dari umum ke khusus.
3. Belajar superordinat (Superordinate Learning)
Belajar superordinat adalah proses struktur kognitif yang mangalami pertumbuhan ke arah diferensiasi, terjadi sejak pemeroleham informasi dan diasosiasikan dengan konsep dalam struktur kognitif tersebut. Proses belajar tersebut akan terus berlangsung hingga pada suatu saat ditemukan hal-hal baru. Belajar superordinat akan terjadi bila konsep-konsep yang ada lebih luas dan inklusif.
4. Penyesuaian integratif (Integrative Reconciliation)
Pada suatu saat anak mungkin akan menghadapi kenyataan bahwa dua atau lebih nama konsep digunakan untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama diterapkan pada lebih dari satu konsep. Untuk mengatasi pertentangan kognitif itu, Ausubel mengajukan konsep penyesuaian integratif, yaitu penggabungan konsep-konsep tersebut menjadi satu konsep baru.
Ada dua persyaratan yang harus terpenuhi dalam suatu proses pembelajaran sehingga proses belajar itu menjadi bermakna (meaningful):
1. Siswa memiliki perangkat meaningful. Perangkat itu berupa informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
2. Materi yang disampaikan juga berpotensi bermakna, yaitu materi-materi yang dapat diasimilasikan dengan informasi yang telah dimiliki.
Untuk memenuhi kondisi ideal pembelajaran, maka ada beberapa tahapan dalam pembelajaran itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Slavin:
1. Fase pertama: Penyajian Advance Organizer
Anak akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan (belajar)” (Advance Organizer) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada anak. Pengatur Kemajuan tersebut merupakan konsep atau infomasi umum yang mencakup semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada anak. Pengatur Kemajuan merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif didalam merancang pembelajaran. Penggunaan Advance Organizer sebagai kerangka isi dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mempelajari informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif anak.
Untuk itu ada beberapa tindakan praktis yang harus dijalankan oleh seorang pengajar:
a. Menjelaskan tujuan materi
b. Menampakkan kemajuan
c. Menghubungkan (mengasimilasikan) kemajuan dengan pengetahuan anak.
2. Fase kedua: Penyajian Materi dan Tugas Pembelajaran
a. Membuat pengaturan materi pembelajaran secara eksplisit
b. Menyusun perintah logis tentang materi pembelajaran
c. Menyajikan materi dan melibatkan siswa dalam aktifitas yang bermakna
Dalam tahap ini guru menyajikan materi pembelajaran yang baru dengan metode ceramah, diskusi, film, atau menyajikan tugas-tugas belajar kepada anak didik. Ausubel menekankan tentang pentingnya mempertahankan perhatian anak, dan pentingnya pengorganisasian materi pembelajaran yang dikaitkan dengan struktur yang terdapat dalam advance organizer. Dia menyarankan suatu proses yang diferensiasi progresif, yaitu pembelajaran berlangsung setahap demi setahap , dimulai dari konsep umum menuju pada informasi spesifik, dan membandingkan antara konsep lama dengan konsep baru.
3. Fase ketiga: Memperkuat Organisasi Kognitif
a. Menghubungkan informasi baru pada advance organizer
b. Meningkatkan pembelajaran aktif.
Ausubel menyarankan bahwa guru mencoba mengikatkan informasi baru ke dalam struktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pembelajaran, dengan cara mengingatkan anak bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum. Pada akhir pembelajaran anak diminta untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri mengenai tingkat pemahamannya terhadap materi pembelajaran yang baru dipelajari, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan pengorganisasian materi pembelajaran sebagaimana yang dideskripsikan dalam Advance Organization. Guru juga memberikan pertanyaan kepada anak dalam rangka menjajagi keluasam pemahaman anak tentang isi pelajaran.





III. Penutup
Teori belajar bermakna Ausubel merupakan salah satu teori pembelajaran yang menekankan adanya asimilasi pengetahuan yang telah dimiliki oleh anak didik sebelumnya. Dengan mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi anak didik. Yang terpenting bagi kita dengan adanya teori tersebut dapat membantu kesulitan bagi mereka yang sedang belajar bahasa sehingga dapat memaksimalkan kemampuan mereka seperti yang kita harapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, 2004

E. Slavin, Educational Psychology, Englewood Cliffs, NY: Prentice-Hall, 1988

Hamzah B. Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2006

Nazri Syakur, Diktat Psikolinguistik, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2008

http://haryonostkip.blogspot.com/2009/03/teori-belajar.html

1 komentar:

  1. Salam kenal
    Ijinkan saya menginformasikan blog dari http://pcahyono.blogspot.com/

    Salam kreatif...

    BalasHapus

Followers