Selasa, 17 April 2012

METODE PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN

I. Pendahuluan
Pendidikan Islam, tentunya tidak akan terlepas dari “panduan” ajaran Islam itu sendiri yakni al-Qur’an. Dalam konsep pendidikan Islam, maka harus melihat segala sesuatunya dari sudut al-Qur’an dan as-Sunnah. Metode dalam pengajaran juga termasuk ke dalam kurikulum pendidikan. Dan pendidikan agama Islam, harus mengacu kepada al-Qur’an, tulisan ini berusaha menggali konsep dan asa pendidikan Islam khususnya menyangkut metode pengajaran yang ada dalam Al-Qur’an.
Sebagaimana dalam beberapa ayat al-Qur’an, metode memiliki kaitan yang amat luas. Thariqah atau metode yang digunakan tersebut, terkadang di dalam al-Qur’an, dilihat dari segi objeknya, sifatnya, fungsinya, akibatnya dan sebagainya. Hal ini berarti didalam al-Qur’an terdapat perhatian yang luar biasa tinggi. Dan dengan demikian al-Qur’an lebih menunjukannya dengan isyarat-isyarat yang memungkinkan dilakukan dan dikembangkan lebih lanjut. Akan tetapi, dalam hal ini al-Qur’an tidak menunjukan arti dari metode pendidikan secara tersurat, akan tetapi tersirat, hal ini karena memang al-Qur’an bukan ilmu pengetahuan tentang metode. Dan pemahaman sangat dituntut dalam menemukan pengertian yang macam-macam.

II. Pembahasan
Bertolak dari pandangan tersebut, al-Qur’an menawarkan berbagai pendekatan dan metode dalam pendidikan, yakni dalam tata cara menyampaikan materi pendidikan. Metode tersebut antara lain:
1. Metode Teladan
Dalam Q. S. Al Ahzab :21 Allah menyatakan bahwa:
                 
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu….
Dalam al-Qur’an, kata teladan diproyeksikan dengan kata ( ) yang kemudian diberi kata sifat ( ). Dalam surat al-Ahzab diatas, merupakan bukti adanya metode keteladanan dalam pengajaran. Muhammad Qutb misalnya, mengisyaratkan bahwa di dalam Nabi Muhammad adalah contoh yang baik dan ini merupakan suatu metodologi dalam pengajaran. Bahwa dalam pengajaran dibutuhkan adanya contoh-contoh yang akan memudahkan siswa dalam memahami materi pengajaran dengan baik.
Lebih lanjut, al-Qur’an menjelaskan Akhlak nabi Muhammad dalam bentuk tingkah laku. Misalnya dalam surat al Fatir : 29:
•                
Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Hal ini menandakan bahwa dalam dunia pendidikan seorang figur yang baik harus ada. Dalam hal ini tentunya seorang guru harus memiliki figur yang baik yang mana bisa di contoh oleh murid atau anak didiknya.

2. Metode Kisah-kisah
Didalam al-Qur’an selain terdapat nama suatu surat, yaitu surat al-Qasas yang berarti cerita-cerita atau kisah-kisah, juga kata kisah tersebut diulang sebanyak 44 kali. Qurai Syihab pernah meneliti, bahwa mengemukakan kisah dalam al-Qur’an tidak segan-segan untuk mengatakan atau memberitahukan “kelemahan manusiawi”.
Kisah-kisah sebagai metode pendidikan, tenyata memiliki daya tarik yang dapat menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat alamiah tersebut, dan menyadari pengaruhnya yang sangat besar. Sebagai contoh, dalam Q.S Al Qashash ayat 76, Allah memberi pelajaran contoh orang yang tercela:


 •             •             •     
Artinya: (76). Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

Cerita ataupun kisah sebagaimana di atas bisa dijadikan contoh dari teknik pendidikan. Allah menggunakan berbagai cerita; cerita sejarah faktual yang menampilkan suatu tokoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar manusia bisa berfikir dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
Untuk maksud dan tujuan cerita tersebut, al-Qur'an mengungkapkan sebanyak 44 kali seperti diatas. Sebagaimana dalam Q.S. al-Baqarah: 30-39 misalnya yang berisi tentang dialog antara Allah dan Malaikat. Ketika itu para malaikat “memprotes” rencana Allah untuk menciptakan khalifah di bumi, yaitu manusia. Tapi dalam kisah tersebut diceritakan bahwa sesungguhnya Allah lebih mengetahui hal-hal (hikmah penciptaan) yang tidak diketahui oleh para malaikat tersebut. Dikisahkan juga tentang kisah tentang pembangkangan iblis yang enggan memenuhi perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam, kisah tentang turunnya Nabi Adam ke dunia, dan juga kisah-kisah lainnya.
Demikian adalah contoh dari kisah yang dapat diangkat menjadi metode pengajaran dalam pendidikan Islam. Pendidik dapat menggali hikmah dibalik kisah tersebut dan menyampaikainya kepada peserta didik. Dan kedua kisah diatas adalah contoh metode pendidikan Allah melalui kisah al-Qur’an dalam aspek keimanan dan akhlak.

3. Metode Nasihat
Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Hal demikian kemudian dikenal dengan nasihat. Akan tetapi nasihat yang disampaikannya selalu disertai dengan panutan/teladan si pemberi atau penyampai nasihat tersebut.
Di dalam al-Qur’an kata-kata nasihat diulang sebanyak 13 ayat dalam 7 surat. Diantara ayat-ayat tersebut ada yang berkaitan dengan nasihat para nabi terhadap kaumnya. Sebagaimana Nabi Saleh menasihati kaumnya dalam Q.S. al-A’raf :79
             • 
Artinya: 79. Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”.

Jika nasihat ini dikaitkan dengan dengan metode, maka menurut al-Qur’an metode itu hanya diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan, . dengan demikian, metode nasihat tampaknya lebih ditunjukan kepada murid-murid atau peserta didik yang malanggar peraturan. Ini menunjukan dasar psikologis yang kuat karena pada umumnya orang tidak menyenangi nasihat, apalagi apabila nasihat itu ditunjukan kepada pribadi tertentu.
Nasihat juga menunjukan perbedaan antara yang memberi nasihat dengan yang dinasihati. Yang menasihati berada pada posisi lebih tinggi. Lebih-lebih bila nasihat tersebut datang dari orang yang tidak disukai, maka tidak akan banyak artinya. Berbeda bila nasihat diberikan oleh orang yang disukai secara obyaktif, mereka justru meminta nasihat atau lebih senang dinasihati. Nampaknya nasihat harus lebih dahulu didasarkan kepada kepribadian pemberi nasihat.
Nasihat juga bisa datang dari bawah ke atas dengan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama yang menasihati lebih baik dari yang dinasihati, seperti Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, Azar yang menyembah dan pembuat berhala. Kemungkinan kedua, yang menasihati lebih buruk dari yang dinasihati, seperti putra putri nabi Yakub yang berniat jahat pada saudaranya nabi Yusuf. Q. S Yusuf: 11:
     •      
Artinya: 11. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami terhadap Yusuf, Padahal Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya.
Dengan demikian nasihat, bisa saja digunakan untuk tujuan-tujuan kurang baik, namun ini jarang terjadi. Yang banyak dilakukan adalah nasihat tersebut sasarannya adalah timbulnya kesadaran pada orang yang dinasihati. Ini bisa dilihat pada apa yang dilakukan oleh Lukmanul Hakim kepada putranya: Q.S. Luqman 13
               
Artinya (13). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dari uraian diatas sudah jelas bahwa al-Qur’an secara eksplisit menggunakan nasihat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Karenanya sebagai metode pengajaran, nasihat dapat dilakukan.

III. Kesimpulan
Di dalam al-Qur’an sangat banyak sekali metode pengajaran yang Allah contohkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa contoh yang terdapat di atas. Setidaknya ada tiga metode yang digunakan oleh Al qur’an dalam memberikan pendidikan bagi umat, yaitu:
1. metode teladan
2. metode kisah
3. dan metode nasihat.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan Islam atau tarbiyah Islamiyah, masalah metode mendapat perhatian yang sangat besar. Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumbangan ajaran Islam berisi prinsip-prinsip dan petunjuk-petunjuk yang dapat difahami dan diinterpretasikan menjadi konsep metode yang bisa diterapkan.









DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazaly, Terjemah Minhajul Abidin, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995

Al-Quran al-Karim

Arief, Armai, Reformasi Pendidikan Islam, Ciputat Press, 2007.

Bahreisy, Salim at.all, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid VI, Bina Ilmu, 1990.

Qardhawi, Yusuf, Alquran Berbicara Akal dan Ilmu Pengetahuan, Gema Insani Press, Jakarta, 1998.

Syadid Muhammad, Manhaj Tarbiyah Metode Pembinaan dalam Alquran, Robbani Press, Jakarta, 2003.

http://ahikmat.wordpress.com/2008/11/25/konsep-metode-pendidikan-dalam-al-qur%E2%80%99an/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers