Senin, 07 Mei 2012

KISAH YUSUF DALAM KEHIDUPAN MODERN

Salah satu metode dakwah dalam Alqur’an adalah dengan metode kisah. Diantara kisah-kisah fenomenal yang terdapat dalam Alquran adalah kisah Yusuf Alahissalam. Kisah ini tersusun tersendiri dalam satu surat, yakni surat Yusuf.
Seluruh isi surat Yusuf berkisar pada cerita Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya beserta orang tua mereka. Cara penuturan kisah Nabi Yusuf ini berbeda dengan kisah-kisah nabi yang lain. Kisah Nabi Yusuf ini khusus diceritakan dalam satu surat, Sedang kisah nabi-nabi yang lain disebutkan dalam beberapa surat. Isi dari kisah Nabi Yusuf ini, Allah menonjolkan akibat yang baik dari kesabaran dan bahwa kesenangan itu datangnya setelah penderitaan. Allah menguji Nabi Ya’kub dengan kehilangan putranya, Yusuf dan penglihatannya, dan menguji ketabahan dan kesabaran Yusuf dengan dipisahkan dari ibu-bapaknya, dibuang ke dalam sumur, dan diperdagangkan sebagai budak.
Kemudian Allah menguji imannya dengan godaan wanita cantik lagi bangsawan dan akhirnya dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian Allah melepaskan Yusuf dan ayahnya dari segala penderitaan dan cobaan; menghimpun mereka kembali; mengembalikan penglihatan Ya’kub; dan menghidupkan lagi cinta kasih antara mereka dengan Yusuf.
Kisah tentang Nabi Yusuf memang fenomenal dan sangat menarik. Tak diragukan lagi bahwa kisah ini saratdengan berbagai makna dan kisah dramatis.
Kisah Yusuf bermula dari mimpi yang dialami oleh Yusuf. Dalam mimpi tersebut, Yusuf disembah (diberikan penghormatan) oleh matahari, rembulan dan bintang-bintang. Merasa janggal dengan mimpi tersebut, Yusuf pun mengadukan mimpi tersebut kepada ayahandanya tercinta. Sang ayah, Ya’kub memang bijak. Beliau melarang Yusuf untuk menceritakan ihwal mimpinya itu kepada saudara-saudaranya.
Saudara-saudara Yusuf yang memang telah menaruh iri hati terhadap Yusuf karena mereka merasa sang ayah lebih menyayangi Yusuf daripada saudara-saudarnya itu. Berawal dari iri hati itu, muncullah niatan mereka untuk menyingkirkan Yusuf dari sisi ayahandanya. Mereka tidak hanya berencana untuk menghilangkan Yusuf dari sisi ayahnya saja, akan tetapi juga menghilangkan Yusuf selama-lamanya. Maka disusunlah siasat licik tersebut.
Dengan dalih mengajak Yusuf berburu dan jalan-jalan ke hutan, mereka berencana untuk membunuh Yusuf. Kemudian mereka meminta ijin kepada ayah mereka perihal niatan mereka untuk mengajak Yusuf berburu. Sang ayah yang telah mencium ketidak-sukaan mereka terhadap Yusuf tidak serta merta mengijinkan mereka mengajak Yusuf berburu. Namun usaha saudara-saudara yusuf untuk meyakinkan ayahnya bahwa mereka akan menjaga Yusuf dengan sebaik-baiknya akhirnya berhasil. Dengan berat hati, sang ayah mengijinkan mereka untuk mengajak serta Yusuf berburu di hutan.
Di tengah hutan, saudara-saudara Yusuf urung membunuh Yusuf. Mereka akhirnya memasukkan Yusuf ke dalam sebuah sumur, dengan harapan Yusuf nantinya akan mati perlahan atau diambil oleh rombongan yang biasanya lewat mengambil air di sumur tersebut. Sehingga akhirnya Yusuf akan dijual sebagai budak. Dengan tidak langsung, usaha mereka untuk menjauhkan Yusuf dari ayahnya telah berhasil.
Rencana mereka berjalan dengan mulus, Yusuf dibuang di dalam sumur dan pakaiannya dibawa untuk ditunjukkan kepada ayahnya sebagai bukti bahwa Yusuf telah dimakan binatang buas, dengan terlebih dahulu pakaian tersebut dikoyak-koyak dan diolesi dengan darah binatang buruan.
Di dalam hutan, Yusuf yang dibuang, diambil oleh rombongan pedagang yang mengambil air minum di sumur. Kemudian mereka menjualnya sebagai budak belian kepada seorang bangsawan di kota. Hidup sebagai seorang budak, membawa Yusuf ke dalam penjara lantaran mengalami skandal “percobaan pemerkosaan” yang dialaminya dengan istri sang bangsawan. Namun dari peristiwa inilah jalan kemuliaan Yusuf mulai terkuak.
Yusuf yang memiliki perangai yang tampan dan bersahaja itu, dipercaya oleh teman-temannya sesama narapidana untuk menafsirkan mimpi yang mereka alami. Kabar tentang kemampuan Yusuf dalam menafsirkan mimpi ini tersebar dan sampai ke telinga penguasa setempat. Maka ketika sang penguasa mengalami mimpi yang aneh, beliau meminta Yusuf untuk menafsirkannya dengan dijanjikan akan dibebaskan dan diberikan kedudukan yang tinggi.
Singkat cerita, Yusuf dapat menafsirkan mimpi sang penguasa tersebut dengan tepat. Dengan begitu, ia dilepaskan dari penjara dan dibersihkan namanya dari segala tuduhan. Bahkan ia diberi kedudukan yang tinggi di sisi sang penguasa. Melalui kedudukannya ini, Yusuf dapat kembali kapada ayahnya dan berkumpul kembali bersama keluarga tercintanya dengan kasih.
Thurut Abadhoh, seorang penulis novel asal adalah seorang yang menyadari akan hal itu. Mungkin hal itu pula yang menginspirasinya untuk menulis sebuah novel dengan jalan cerita yang hampir sama dengan kisah Yusuf. Novel tersebut berjudul Ghufron.
Dapat dikatakan, novel ini identik dengan kisah Yusuf. Hampir semua peristiwa yang ada dalam kisah Yusuf juga ada dalam novel tersebut, hanya setting dan latar belakang peristiwa itu saja yang sudah agak berbeda. Tentu saja ada sedikit “modifikasi” oleh Thurut dalam novel yang dikarangnya itu.
Novel ini mengisahkan seorang anak yang bernama Shodiq. Ia merupakan anak ketiga Shobir dari istrinya yang kedua, Hindun. Sedangkan dua anak pertamanya merupakan buah kasih sayangnya dengan istri pertamanya Widad. Mereka bernama Abdul Ghoni dan Abdul Wadud.
Masalah muncul ketika Abdul ghoni dan Abdul Wadud yang telah menyelesaikan studinya bekerja di lahan pertanian milik ayah mereka. Menyadari betapa melimpahnya kekayaan ayah mereka itu, muncul ketidak relaan mereka jika harus membagi harta itu dengan Shodiq, adik mereka. Selain itu mereka juga merasa iri karena Shobir lebih banyak bersama Shodiq daripada bersama mereka. Maka disusun rencana untuk membunuh Shodiq, yang ketika itu masih berusia puluhan tahun.
Mereka bermaksud membunuh Shodiq dengan dalih mengajak Shodiq untuk bermain di sebuah tempat bermain. Tapi ternyata si kecil Shodiq tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan kedua saudaranya yang hendak membunuhnya di tempat bermain itu. Shodiq menjadi ketakutan, dan tanpa pikir panjang iapun melarikan diri dari kedua sahabatnya itu tanpa sepengetahuan mereka. Namun naas bagi Shodiq, ia tertabrak sebuah mobil. Untung saja si empunya mobil yang bernama Wajdy dan istrinya berbaik hati merawat Shodiq. Karena takut akan bahaya yang berasal dari kedua saudaranya, Shodiq menyembunyikan identitasnya kepada keluarga Wajdy. Kebetulan memang Wajdy tak memiliki keturunan, maka Shodiq pun diadopsi menjadi putra Wajdy.
Singkat cerita, Shodiq yang tumbuh di dalam keluarga berada dan berkecukupan, terpenuhi segala kebutuhannya. Mulai dari materi, kasih saying orang tua, hingga pendidikan tinggi. Shodiq pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, tampan dan cerdas.
Istri Wajdy yang melihat perkembangan Shodiq menaruh hati pada Shodiq. Hingga akhirnya terjadilah skandal sebagaimana yang dialami oleh Yusuf dan Zulaikha. Shodiqpun di penjara karena maslah tersebut. Jalan hidup berkata lain, Shodiq berhasil menafsirkan mimpi yang dialami kepala pemerintahan. Sebagai balas jasa, Shodiq yang memiliki kecakapan dalam bidang pertanian dipercaya oleh pemerintah untuk memimpin lembaga pertanian.
Dari sinilah jalan Shodiq untuk kembali pada ayahnya dan menyadarkan kedua saudaranya mulai terbuka. Kekuasaan Shodiq di bidang pertanian membuatnya leluasa untuk memerintah kakak-kakaknya mendatanginya. Dan akhirnya mereka, yang tidak mengetahui identitas Shodiq sebenarnya, “dipaksa” untuk membawa Shodiq menemui Shobir, ayahnya. Di hadapan Shobir, Shodiq membeberkan kebenaran cerita.dengan besar hati dan lapang dada, Shodiq bersedia memaafkan kedua saudaranya dan akhirnya, sebuah keluarga yang telah berpisah untuk sekian lama itu dapat berkumpul kembali dalam suasana yang penuh keharuan dan kebahagiaan. Kebesaran hati Shodiq inilah yang menjadi tema novel ini, sehingga pengaranga memberikan judul Ghufron (maaf).
Secara umum, novel ini memang sama persis dengan kisah Yusuf diatas. Termasuk runtutan peristiwa serta detail-detail peristiwa yanga mengiringinya. Semisal cerita tentang wanita-wanita kota yang diundang untuk melihat ketampanan Yusuf, juga mimpi yang seolah menjadi misteri yang akan tertebak jawabannya di akhir cerita.
Novel ini cukup singkat dan sederhana, sehingga cocok bagi para pemula yang hendak menggeluti sastra Arab. Jalan ceritanya yang hampir mirip dengan cerita Yusuf juga membantu pembaca dalam memahami novel ini. Patut kita hargai usaha Tsrautt Abadhoh untuk mengangkat kembali hikmah yang terkandung dalam kisah Al quran dengan kemasan dan realita yang lebih modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers